Peer Counseling

PROPOSAL PENGEMBANGAN PEER COUNSELING KELAS IX
DI SMPN 1 KASEMBON TAHUN PEL. 2011 – 2012
OLEH : ARIEF MUSTAFA
KONSELOR SMPN 1 KASEMBON MALANG

1. RASIONAL
Berdasarkan analisis kebutuhan (need assessment) Pelayanan Konseling di SMPN 1 Kasembon yang dilaksanakan diawal tahun pelajaran 2011-2012, maka dapat disimpulkan bahwa adanya kecenderungan siswa tidak mau atau enggan datang ke konselor untuk mendapatkan pelayanan konseling, jika menghadapi masalah. Beberapa faktor penyebab diantaranya ; di tahun pelajaran sebelumnya, BK lebih banyak terlibat dalam penegakan disiplin disekolah sehingga menimbulkan ketakutan akan sanksi-sanksi yang mungkin diterimanya. Kedua, ruang BK yang kurang menjamin privasi sehingga mereka malu jika dilihat teman-temannya. Ketiga, kurangnya informasi tentang pelayanan Konseling yang diterima siswa akibat dari tidak adanya jam masuk kelas dan kekurangan jumlah konselor. Keempat, rasio perbandingan konselor dengan siswa sebesar 1 : 630 jelas sangat tidak memungkinkan konselor mengadakan interaksi yang lebih intensif dengan siswa.
Untuk mengatasi hal tersebut, maka beberapa masalah penghambat pelayanan konseling ditahun pelajaran 2011-2012 perlu diminimalisir dengan cara ;
1. BK harus melepaskan diri dari penegakan disiplin di sekolah dengan tidak lagi terlibat langsung dalam penilaian perilaku siswa.
2. membuat ruang BK yang reprentatif dimana terdapat ruang konseling yang nyaman dan terjamin kerahasiaannya.
3. Pelayanan konseling diberikan secara klasikal pada jam pengembangan diri
4. Mengangkat guru-guru mata pelajaran yang peduli terhadap pelayanan konseling untuk membantu BK agar tercapai rasio yang mendekati ideal yaitu 1 : 150 siswa
5. Melibatkan siswa untuk ikut serta dalam pelayanan konseling melalui program peer counseling yang akan menjadi kepanjangan tangan konselor kesiswa. Peer counseling menjadi pintu pembuka untuk mendekatkan konselor dengan siswa dan mengubah persepsi negatif siswa terhadap konselor

2. DEFINISI PEER COUNSELING

Judy A. Tindall & H. Dean Gray (1985) mengemukakan: “peer counseling is defined as variety of interpersonal helping behaviours assumed by nonprofessionals who undertake a helping role with others”(konseling teman sebaya dapat diartikan sebagai jenis bantuan interpersonal yang dilakukan oleh nonprofesional untuk membantu teman yang lainnya terj. Bebas arief Mustafa). Lebih lanjut dijelaskan bahwa: “peer counseling includes one-to-one helping relationships, group leadership, discussion leadership, advisement, tutoring, and all activities of an interpersonal human helping or assisting nature”(konseling teman sebaya meliputi hubungan bantuan individu ke individu, kepemimpinan kelompok, kepemimpinan dalam diskusi, pemberian nasehat, tutorial, dan semua aktifitas hubungan interpersonal manusia yang saling membantu terj bebas, arief mustafa).
Dengan sederhana dapat didefinisikan bahwa konseling sebaya adalah layanan bantuan konseling yang diberikan oleh teman sebayanya (biasanya seusia/tingkatan pendidikannya hampir sama) yang telah terlebih dahulu diberikan pelatihan-pelatihan untuk menjadi konselor sebaya sehingga diharapkan dapat memberikan bantuan baik secara individual maupun kelompok kepada teman-temannya yang bermasalah ataupun mengalami berbagai hambatan dalam perkembangan kepribadiannya. Mereka yang menjadi konselor sebaya bukanlah seorang yang profesional di bidang konseling tapi mereka diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan konselor profesional.
Dengan adanya layanan peer counseling berarti sekolah menyiapkan siswa-siswa tertentu untuk menjadi konselor nonprofesional dalam membantu menyelesaikan masalah teman-temannya. Para siswa calon peer counselor akan mendapatkan serangkaian pelatihan yang memadai untuk jadi konselor sebaya, sehingga diharapkan meningkatkan kemampuan siswa (yang dilatih sebagai peer-conselor dan konseli yang dibimbingnya) dalam menghadapi masalah. (Erhamwilda, MODEL HIPOTETIK ”PEER COUNSELING” DENGAN PENDEKATAN REALITAS UNTUK SISWA SLTA -Satu Inovasi Bagi Layanan Konseling Di Sekolah, Makalah disampaikan dalam Konggres Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia tahun 2009)

3. BEBERAPA HASIL PENELITIAN PENERAPAN PEER COUNSELING

Dalam makalahnya yang berjudul MODEL HIPOTETIK ”PEER COUNSELING” DENGAN PENDEKATAN REALITAS UNTUK SISWA SLTA -Satu Inovasi Bagi Layanan Konseling Di Sekolah (lebih jauh tentang makalah tersebut dapat didownload di http://www.konselingindonesia.com), Erhamwilda mengumpulkan beberapa riset tentang keefektifan peer counseling. Berikut ini merupakan kutipan keefektifan peer counseling ;
Carr (1981) menyatakan bahwa tanpa bantuan aktif dari para siswa (teman sebaya) dalam memecahkan krisis perkembangan dan problem-problem psikologis mereka sendiri, program-program layanan dan program konseling tidak akan berhasil secara efektif. Menurut Carr (1981) konselor harus melibatkan para siswa (teman sebaya) sebagai cooperative allies dan upaya-upaya membantu siswa melalui berbagai tindakan yang rasional dan logis.
Judy A. Tindall & Dean Gray (1985) telah menunjukkan bahwa sebagian besar layanan yang diberikan melalui peer counseling itu sukses. Sebagaimana Bowman and Myrick (1980) menggambarkan program sebaya pada pelajar kelas 3-6 SD, di mana siswa sudah dilatih menjadi konselor yunior. Semua peer helpers mengalami peningkatan positif dalam konsep diri ketika dibandingkan dan dianalisis dari hasil pre test dan post testnya.
Selanjutnya Emmert (1977) menemukan bahwa kelompok siswa yang telah mendapatkan pelatihan menjadi peer-helper secara statistik berbeda dan lebih tinggi skor empatinya dibanding kelompok siswa yang tidak menerima pelatihan. Dalam studi yang lain, Bell (1977) menggunakan metoda perbandingan antar kelompok untuk menemukan efek dari partisipasi pada program peer counseling siswa SMP. Ia menguji apakah terjadi peningkatan konsep diri dan prestasi akademik pada peer-conselor. Dia menemukan meskipun peer-conselor yang dilatih tidak memperlihatkan peningkatan dalam self consept, mereka menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi dibanding kelompok siswa peer conselor yang tidak bekerja dengan siswa-siswa lain. (Judy A. Tindall & Dean Gray,1985)
Gumaer (1976) dengan menggunakan skala tipe Likert dalam self-report studinya; ” his findings suggested that both the helpers and the students they worked with had positive attitudes toward the peer helper experience and believed it should be a part of every school.” (Judy A. Tindall & Dean Gray,1985)
Kemudian Miller (dalam Fritz, 1999) melaporkan bahwa konseli-konseli yang memanfaatkan layanan konseling sebaya mampu melakukan identifikasi diri dengan teman sebaya mereka, dan para konseli menganggap bahwa “konselor” sebaya memiliki kemauan membangun jembatan komunikasi. Tapi menurut Fritz (1999) hal ini tidak berarti konselor sebaya mengganti keberadaan konselor profesional, ia hanya membantu meningkatkan pelayanan.
Tindall (1978) mencoba mengukur pengaruh dari latihan pada kemampuan siswa yang berperan sebagai fasilitator sebaya dalam suasana/ setting individual dibandingkan yang siswa tidak dilatih. Kelompok kontrol terdiri dari 5 siswa SMA yang bekerja di kantor; kelompok eksperimen terdiri dari 8 siswa berperan memberikan pelayanan dalam konseling sebaya di sebuah SMA. Dua orang siswa dari kelompok eksperimen menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam mengadili, dan secara signifikan lebih tinggi kemampuannya sebagai helper individual dibanding siswa kelompok kontrol yang tidak dilatih. Hal ini ditunjukkan baik dalam rekaman interview 15 menit maupun pada catatan tertulis dalam indeks komukasi.
Judy A. Tindal & Dean Gray (1985) menyimpulkan bahwa: “Obviously other highly controlled research is still needed, but sufficient subjective and objective studies are available to indicate the success of peer counseling.”
Selanjutnya Suwarjo (2008) telah membuktikan bahwa model koseling teman sebaya efektif dalam mengembangkan daya lentur (resilience) anak asuh Panti Sosial Asuhan Anak Propinsi Istimewa Yogyakarta.
Di Inggris, “peer counseling” sangat kuat, dan punya inisiatif untuk perlindungan hukum bagi perkembangan pendidikan, lingkungan, keluarga, etc. Anggota sukarela “peer counseling” menjadi mediasi bagi pencagahan maupun mengatasi berbagai konflik antara kelompok.

4. Kondisi yang Esensial bagi ”Peer Counseling”
Menurut Judy A. Tindall dan Dean Gray (1985) berdasarkan riset empirik dan riset literatur, “peer counseling” yang memuaskan membutuhkan kondisi tertentu yaitu: (a) setiap orang yang terlibat dalam program perlu terlibat dalam perencanaan, (b) rencana program pelatihan yang spesifik sangat penting. Format program mungkin dalam bentuk kelas, satu seri workshop, seminar training, atau bentuk lainnya, harus dibuat komponen training yang efektif (c) pertemuan kelompok jangka pendek ataupun workshop yang durasinya pendek tidak tepat untuk melatih helper secara efektif, (d) program latihan yang panjang tidak penting, tetapi mesti terstruktur baik, cukup memungkinkan trainees untuk mendapatkan pelatihan terpadu, (e) individu yang kualitas sensitivitas, kehangatan, dan kesadaran tentang orang lain sudah baik, membuatnya menjadi trainees yang efektif (f) supervisor dari trainees (orang yang dilatih) sangat penting keberadaannya. Termasuk untuk memberikan follow up pada peer-counseling yang sedang dijalankan helper, (g) evaluasi dan riset mesti menjadi bagian dari training dan program peer counseling, untuk mengukur kemajuan dan masalah-masalah, (h) orang yang terlibat dalam program perlu tertarik dengan konsep dan aplikasi dari “peer counseling”, (i) siapapun yang merencanakan untuk mengimplementasikan program “peer counseling” di sekolah akan membutuhkan respon positif, dari berbagai personil, (j) jangan gunakan peer training dan pekerja yang berikutnya dari non profesional yang bisa menimbulkan kegagalan bekerja dengan profesional, jangan ingin diganggu. ”Peer counselor” mesti menjadi bagian terintegrasi dari keseluruhan program yang diadakan tenaga profesional, (k) aspek Etik dari latihan mesti diajarkan secara tepat dan disupervisi secara menyeluruh, (l) Peer counselor akan bekerja dengan sebayanya dengan sistem nilai berbeda dengan di kelompok, dan (m) peer counselor dapat bekerja secara sukses dengan dukungan kelompok jika dilatih dengan pantas.

5. RASIONAL PEMILIHAN PENDEKATAN KONSELING
Karena pelayanan konseling dengan model peer counseling melibatkan siswa sebagai calon konselor maka pendekatan konseling yang dipakai haruslah pendekatan yang mudah diaplikasikan dan fleksibel. Dalam konseling, terdapat banyak pendekatan yang dapat dipakai untuk tujuan tersebut. Seperti Konseling realitas, konseling trait factor, terapi gestalt, rasional emotive terapy. Disini akan dicoba menggunakan konseling realitas dengan pertimbangan ; pertama menguji hipotetik dari Erhamwida tentang keefektifan konseling realitas dalam program peer counseling, kedua, pendekatan konseling realitas lebih mudah diterapkan, berorientasi kekinian, dan sesuai dengan tahap perkembangan remaja yang lebih realistik dan rasional dalam menghadapi persoalan hidup.
6. Aplikasi konseling realitas pada program“Peer Counseling” di SMPN 1 Kasembon
Berdasarkan kajian tentang pelaksanaan konseling individual dengan menggunakan Terapi Realitas dan berdasarkan pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan peer counseling, maka dapat disusun bentuk aplikatif dari program peer counseling dengan pendekatan terapi realitas.
Model aplikatif program peer counseling dengan menggunakan pendekatan terapi realitas akan mengacu pada pandangan Gysbers &Henderson (1994); Gysbers & Moore, (1981) tentang model program. Dalam model program tersebut ada tujuh komponen dengan dua kategori utama yaitu: komponen struktur, dan komponen program.
Komponen struktur menggambarkan: (1) definisi program peer counseling, (2) rasional pentingnya program peer counseling, dan (3) asumsi yang berisi prinsip yang mendasari program peer counseling.
Komponen program menggambarkan: (1) aktivitas-aktivitas utama dalam pelaksanaan program peer counseling, (2) peran dan tanggung jawab personil sekolah yang terlibat dalam program peer counseling.
Aktivitas-aktivitas yang termasuk komponen program adalah:
a. membuat rancangan program “peer counseling”, dengan melibatkan berbagai pihak terutama konselor profesional, kepala sekolah, persetujuan dan dukungan para guru dan administrasi. Isi perencanaan akan meliputi: pemilihan ”peer counselor” dan pelatihan bagi peer counselor, bentuk pelatihan, personil yang akan melatih dan kriterianya, biaya pelatihan, tempat pelatihan, berapa lama pelatihan akan dilakukan, pihak-pihak yang dimintai dukungan untuk pelatihan, keterampilan dasar konseling yang akan dilatihkan bagi peer counselor, pemahaman tentang pendekatan terapi realitas yang dijadikan kerangka pikir teoritik dan praktis dalam latihan konseling, serta evaluasi pelatihan.
b. Pelaksanaan pelatihan peer counselor (mulai dari teoritis sampai praktek).
Pelatihan dilaksanakan sesuai rencana, dan pendekatan terapi realitas dijadikan acuan dalam memahami hakekat peer counsele sebagai manusia, dan bagaimana masalah terjadi pada diri counsele, bagaimana mengarahkan peer counsele pada perubahan perilaku, dengan kerangka WDEP, bagaimana hubungan konseling harus terjalin antara konselor dengan konseli, prosedur dan teknik-teknik konseling, dan bagaimana menilai kemajuan konseli dalam konseling. Pelatihan keterampilan dasar konseling akan berguna untuk berkomunikasi dalam konseling, sesuai tahap-tahap konseling. Pelatihan konseling dilakukan berupa latihan melaksanakan konseling individual maupun konseling kelompok.
c. Bekerjanya peer counselor dalam melayani peer counselee pada counseling individual ataupun konseling kelompok dibawah pengawasan supervisor (konselor profesional)
d. Membahas berbagai kesulitan yang mungkin ditemui peer counselor, dan menindaklanjuti proses konseling jika perlu.
e. Melakukan evaluasi terhadap hasil kerja peer counselor, untuk peningkatan kemampuan peer counselor, dan mengkaji berbagai kekuatan dan kelemahan yang terjadi.
f. Mengkaji dampak program peer counseling pada peer counselor dan pada peer counselee.

6.1 Rancangan Program Peer Counseling
Pemilihan peer Counselor ;
– Menyampaikan gagasan dan pentingnya peer counseling pada siswa saat pelayanan konseling klasikal dikelas
– Memilih siswa sebanyak 4 orang tiap kelas untuk dilatih. Dengan jumlah kelas sebanyak 7 rombel pada kelas 9 maka akan diperoleh sebanyak 28 siswa calon peer counselor.
Pelatihan Peer Counselor
– Merancang model pelatihan pada siswa yang telah dipilih
– Menentukan etika dasar pelayanan konseling untuk peer counselor
– Jenis-jenis ketrampilan konseling yang perlu diberikan beserta panduannya
– Waktu pelaksanaan dan keterlibatan pihak-pihak yang diperlukan
Bentuk dan Waktu Pelatihan
– Pengembangan Kelas konseling setiap hari sabtu setelah jam pelajaran selesai selama 3 bulan (September – Nopember 2011) untuk memberikan pelatihan pada siswa yang telah ditentukan untuk menjadi peer counselor
Personil yang terlibat
– Kepala Sekolah
– Konselor
– Narasumber dari perguruan tinggi untuk memberikan penguatan peer counseling
Biaya Pelatihan
– Biaya pelatihan dibebankan dari APBS SMPN 1 Kasembon tahun 2011 – 2012 untuk jenis kegiatan pelayanan BK
– Perkiraan Besar biaya terlampir
Ketrampilan dasar yang dilatihkan
– Dasar – dasar ketrampilan komunikasi ; attending, summarizing, Questioning, Genuineness, Assertiveness/ketegasan, Confrontation, Problem Solving
– Pemahaman tentang terapi realitas toeri dan praktik
Evaluasi pelatihan
– Umpan balik dari peserta kelas peer counseling
– Kesulitan-kesulitan dan hambatan dalam pelaksanaan evaluasi pelatihan

About mgbkmalang

Blog tempat Guru BK Kab. Malang berbagi pengalaman dalam menangani berbagai persoalan Bimbingan Konseling di Sekolah
This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s