SOFTWARE TEST PSIKOLOGI

Penggunaan tes psikologi sebagai bagian dari intrumentasi BK dapat membantu memahami siswa secara lebih utuh. meskipun harus dipahami bahwa test hanyalah sebagai salah satu alat saja. berbagai instrumen lain dapat digunakan untuk hal tersebut.

berikut ini bagi rekan-rekan guru bk dapat memanfaatkan software berikut untuk menambah koleksi software BK.

yang ingin menggunakan software tes psikologi dapat : Download disini

untuk item tes psikologi dapat : didownload disini

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SOFTWARE SOSIOMETRI

Salah satu indikator kompetensi Guru Bimbingan Konseling dalam Permenpan dan reformasi birokrasi no. 16 tahun 2009 (baca buku 2), dalam kegiatan pendukung layanan yang harus dilakukan adalah pemetaan siswa dalam hubungan sosial dengan teman sebaya(sosiometri). Meskipun sosiometri bukan merupakan hal yang asing bagi guru BK, namun seringkali tidak dilakukan.hal ini disebabkan karena lamanya waktu pengerjaan dan menjemukan hanya untuk mendapatkan pola hubungan teman sebaya. Meskipun   Sosiometri sangat bermanfaat dalam pelaksanaan Bimbingan disekolah. Dengan mempelajari data sosiometri seorang konselor dapat :Menemukan murid mana yang ternyata mempunyai masalah penyesuaian diridalam kelompoknya.Membantu meningkatkan partisipasi sosial diantara murid-murid dengan penerimaan sosialnya.Membantu meningkatkan pemahaman dan pengertian murid terhadap masalah pergaulan yang sedang dialami oleh individu tertentu.Merencanakan program yang konstruktif untuk menciptakan iklim sosial yang lebih baik dan sekaligus membantu pemecahan permasalahan yang dialami oleh siswa.

berikut ini kami lampirkan software sosiometri yang dapat diunduh dari blog pribadi: http://katresna72.wordpress.com/download-software-sosiometri/

Download sosiometri disini

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Peer Counseling

PROPOSAL PENGEMBANGAN PEER COUNSELING KELAS IX
DI SMPN 1 KASEMBON TAHUN PEL. 2011 – 2012
OLEH : ARIEF MUSTAFA
KONSELOR SMPN 1 KASEMBON MALANG

1. RASIONAL
Berdasarkan analisis kebutuhan (need assessment) Pelayanan Konseling di SMPN 1 Kasembon yang dilaksanakan diawal tahun pelajaran 2011-2012, maka dapat disimpulkan bahwa adanya kecenderungan siswa tidak mau atau enggan datang ke konselor untuk mendapatkan pelayanan konseling, jika menghadapi masalah. Beberapa faktor penyebab diantaranya ; di tahun pelajaran sebelumnya, BK lebih banyak terlibat dalam penegakan disiplin disekolah sehingga menimbulkan ketakutan akan sanksi-sanksi yang mungkin diterimanya. Kedua, ruang BK yang kurang menjamin privasi sehingga mereka malu jika dilihat teman-temannya. Ketiga, kurangnya informasi tentang pelayanan Konseling yang diterima siswa akibat dari tidak adanya jam masuk kelas dan kekurangan jumlah konselor. Keempat, rasio perbandingan konselor dengan siswa sebesar 1 : 630 jelas sangat tidak memungkinkan konselor mengadakan interaksi yang lebih intensif dengan siswa.
Untuk mengatasi hal tersebut, maka beberapa masalah penghambat pelayanan konseling ditahun pelajaran 2011-2012 perlu diminimalisir dengan cara ;
1. BK harus melepaskan diri dari penegakan disiplin di sekolah dengan tidak lagi terlibat langsung dalam penilaian perilaku siswa.
2. membuat ruang BK yang reprentatif dimana terdapat ruang konseling yang nyaman dan terjamin kerahasiaannya.
3. Pelayanan konseling diberikan secara klasikal pada jam pengembangan diri
4. Mengangkat guru-guru mata pelajaran yang peduli terhadap pelayanan konseling untuk membantu BK agar tercapai rasio yang mendekati ideal yaitu 1 : 150 siswa
5. Melibatkan siswa untuk ikut serta dalam pelayanan konseling melalui program peer counseling yang akan menjadi kepanjangan tangan konselor kesiswa. Peer counseling menjadi pintu pembuka untuk mendekatkan konselor dengan siswa dan mengubah persepsi negatif siswa terhadap konselor

2. DEFINISI PEER COUNSELING

Judy A. Tindall & H. Dean Gray (1985) mengemukakan: “peer counseling is defined as variety of interpersonal helping behaviours assumed by nonprofessionals who undertake a helping role with others”(konseling teman sebaya dapat diartikan sebagai jenis bantuan interpersonal yang dilakukan oleh nonprofesional untuk membantu teman yang lainnya terj. Bebas arief Mustafa). Lebih lanjut dijelaskan bahwa: “peer counseling includes one-to-one helping relationships, group leadership, discussion leadership, advisement, tutoring, and all activities of an interpersonal human helping or assisting nature”(konseling teman sebaya meliputi hubungan bantuan individu ke individu, kepemimpinan kelompok, kepemimpinan dalam diskusi, pemberian nasehat, tutorial, dan semua aktifitas hubungan interpersonal manusia yang saling membantu terj bebas, arief mustafa).
Dengan sederhana dapat didefinisikan bahwa konseling sebaya adalah layanan bantuan konseling yang diberikan oleh teman sebayanya (biasanya seusia/tingkatan pendidikannya hampir sama) yang telah terlebih dahulu diberikan pelatihan-pelatihan untuk menjadi konselor sebaya sehingga diharapkan dapat memberikan bantuan baik secara individual maupun kelompok kepada teman-temannya yang bermasalah ataupun mengalami berbagai hambatan dalam perkembangan kepribadiannya. Mereka yang menjadi konselor sebaya bukanlah seorang yang profesional di bidang konseling tapi mereka diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan konselor profesional.
Dengan adanya layanan peer counseling berarti sekolah menyiapkan siswa-siswa tertentu untuk menjadi konselor nonprofesional dalam membantu menyelesaikan masalah teman-temannya. Para siswa calon peer counselor akan mendapatkan serangkaian pelatihan yang memadai untuk jadi konselor sebaya, sehingga diharapkan meningkatkan kemampuan siswa (yang dilatih sebagai peer-conselor dan konseli yang dibimbingnya) dalam menghadapi masalah. (Erhamwilda, MODEL HIPOTETIK ”PEER COUNSELING” DENGAN PENDEKATAN REALITAS UNTUK SISWA SLTA -Satu Inovasi Bagi Layanan Konseling Di Sekolah, Makalah disampaikan dalam Konggres Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia tahun 2009)

3. BEBERAPA HASIL PENELITIAN PENERAPAN PEER COUNSELING

Dalam makalahnya yang berjudul MODEL HIPOTETIK ”PEER COUNSELING” DENGAN PENDEKATAN REALITAS UNTUK SISWA SLTA -Satu Inovasi Bagi Layanan Konseling Di Sekolah (lebih jauh tentang makalah tersebut dapat didownload di http://www.konselingindonesia.com), Erhamwilda mengumpulkan beberapa riset tentang keefektifan peer counseling. Berikut ini merupakan kutipan keefektifan peer counseling ;
Carr (1981) menyatakan bahwa tanpa bantuan aktif dari para siswa (teman sebaya) dalam memecahkan krisis perkembangan dan problem-problem psikologis mereka sendiri, program-program layanan dan program konseling tidak akan berhasil secara efektif. Menurut Carr (1981) konselor harus melibatkan para siswa (teman sebaya) sebagai cooperative allies dan upaya-upaya membantu siswa melalui berbagai tindakan yang rasional dan logis.
Judy A. Tindall & Dean Gray (1985) telah menunjukkan bahwa sebagian besar layanan yang diberikan melalui peer counseling itu sukses. Sebagaimana Bowman and Myrick (1980) menggambarkan program sebaya pada pelajar kelas 3-6 SD, di mana siswa sudah dilatih menjadi konselor yunior. Semua peer helpers mengalami peningkatan positif dalam konsep diri ketika dibandingkan dan dianalisis dari hasil pre test dan post testnya.
Selanjutnya Emmert (1977) menemukan bahwa kelompok siswa yang telah mendapatkan pelatihan menjadi peer-helper secara statistik berbeda dan lebih tinggi skor empatinya dibanding kelompok siswa yang tidak menerima pelatihan. Dalam studi yang lain, Bell (1977) menggunakan metoda perbandingan antar kelompok untuk menemukan efek dari partisipasi pada program peer counseling siswa SMP. Ia menguji apakah terjadi peningkatan konsep diri dan prestasi akademik pada peer-conselor. Dia menemukan meskipun peer-conselor yang dilatih tidak memperlihatkan peningkatan dalam self consept, mereka menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi dibanding kelompok siswa peer conselor yang tidak bekerja dengan siswa-siswa lain. (Judy A. Tindall & Dean Gray,1985)
Gumaer (1976) dengan menggunakan skala tipe Likert dalam self-report studinya; ” his findings suggested that both the helpers and the students they worked with had positive attitudes toward the peer helper experience and believed it should be a part of every school.” (Judy A. Tindall & Dean Gray,1985)
Kemudian Miller (dalam Fritz, 1999) melaporkan bahwa konseli-konseli yang memanfaatkan layanan konseling sebaya mampu melakukan identifikasi diri dengan teman sebaya mereka, dan para konseli menganggap bahwa “konselor” sebaya memiliki kemauan membangun jembatan komunikasi. Tapi menurut Fritz (1999) hal ini tidak berarti konselor sebaya mengganti keberadaan konselor profesional, ia hanya membantu meningkatkan pelayanan.
Tindall (1978) mencoba mengukur pengaruh dari latihan pada kemampuan siswa yang berperan sebagai fasilitator sebaya dalam suasana/ setting individual dibandingkan yang siswa tidak dilatih. Kelompok kontrol terdiri dari 5 siswa SMA yang bekerja di kantor; kelompok eksperimen terdiri dari 8 siswa berperan memberikan pelayanan dalam konseling sebaya di sebuah SMA. Dua orang siswa dari kelompok eksperimen menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam mengadili, dan secara signifikan lebih tinggi kemampuannya sebagai helper individual dibanding siswa kelompok kontrol yang tidak dilatih. Hal ini ditunjukkan baik dalam rekaman interview 15 menit maupun pada catatan tertulis dalam indeks komukasi.
Judy A. Tindal & Dean Gray (1985) menyimpulkan bahwa: “Obviously other highly controlled research is still needed, but sufficient subjective and objective studies are available to indicate the success of peer counseling.”
Selanjutnya Suwarjo (2008) telah membuktikan bahwa model koseling teman sebaya efektif dalam mengembangkan daya lentur (resilience) anak asuh Panti Sosial Asuhan Anak Propinsi Istimewa Yogyakarta.
Di Inggris, “peer counseling” sangat kuat, dan punya inisiatif untuk perlindungan hukum bagi perkembangan pendidikan, lingkungan, keluarga, etc. Anggota sukarela “peer counseling” menjadi mediasi bagi pencagahan maupun mengatasi berbagai konflik antara kelompok.

4. Kondisi yang Esensial bagi ”Peer Counseling”
Menurut Judy A. Tindall dan Dean Gray (1985) berdasarkan riset empirik dan riset literatur, “peer counseling” yang memuaskan membutuhkan kondisi tertentu yaitu: (a) setiap orang yang terlibat dalam program perlu terlibat dalam perencanaan, (b) rencana program pelatihan yang spesifik sangat penting. Format program mungkin dalam bentuk kelas, satu seri workshop, seminar training, atau bentuk lainnya, harus dibuat komponen training yang efektif (c) pertemuan kelompok jangka pendek ataupun workshop yang durasinya pendek tidak tepat untuk melatih helper secara efektif, (d) program latihan yang panjang tidak penting, tetapi mesti terstruktur baik, cukup memungkinkan trainees untuk mendapatkan pelatihan terpadu, (e) individu yang kualitas sensitivitas, kehangatan, dan kesadaran tentang orang lain sudah baik, membuatnya menjadi trainees yang efektif (f) supervisor dari trainees (orang yang dilatih) sangat penting keberadaannya. Termasuk untuk memberikan follow up pada peer-counseling yang sedang dijalankan helper, (g) evaluasi dan riset mesti menjadi bagian dari training dan program peer counseling, untuk mengukur kemajuan dan masalah-masalah, (h) orang yang terlibat dalam program perlu tertarik dengan konsep dan aplikasi dari “peer counseling”, (i) siapapun yang merencanakan untuk mengimplementasikan program “peer counseling” di sekolah akan membutuhkan respon positif, dari berbagai personil, (j) jangan gunakan peer training dan pekerja yang berikutnya dari non profesional yang bisa menimbulkan kegagalan bekerja dengan profesional, jangan ingin diganggu. ”Peer counselor” mesti menjadi bagian terintegrasi dari keseluruhan program yang diadakan tenaga profesional, (k) aspek Etik dari latihan mesti diajarkan secara tepat dan disupervisi secara menyeluruh, (l) Peer counselor akan bekerja dengan sebayanya dengan sistem nilai berbeda dengan di kelompok, dan (m) peer counselor dapat bekerja secara sukses dengan dukungan kelompok jika dilatih dengan pantas.

5. RASIONAL PEMILIHAN PENDEKATAN KONSELING
Karena pelayanan konseling dengan model peer counseling melibatkan siswa sebagai calon konselor maka pendekatan konseling yang dipakai haruslah pendekatan yang mudah diaplikasikan dan fleksibel. Dalam konseling, terdapat banyak pendekatan yang dapat dipakai untuk tujuan tersebut. Seperti Konseling realitas, konseling trait factor, terapi gestalt, rasional emotive terapy. Disini akan dicoba menggunakan konseling realitas dengan pertimbangan ; pertama menguji hipotetik dari Erhamwida tentang keefektifan konseling realitas dalam program peer counseling, kedua, pendekatan konseling realitas lebih mudah diterapkan, berorientasi kekinian, dan sesuai dengan tahap perkembangan remaja yang lebih realistik dan rasional dalam menghadapi persoalan hidup.
6. Aplikasi konseling realitas pada program“Peer Counseling” di SMPN 1 Kasembon
Berdasarkan kajian tentang pelaksanaan konseling individual dengan menggunakan Terapi Realitas dan berdasarkan pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan peer counseling, maka dapat disusun bentuk aplikatif dari program peer counseling dengan pendekatan terapi realitas.
Model aplikatif program peer counseling dengan menggunakan pendekatan terapi realitas akan mengacu pada pandangan Gysbers &Henderson (1994); Gysbers & Moore, (1981) tentang model program. Dalam model program tersebut ada tujuh komponen dengan dua kategori utama yaitu: komponen struktur, dan komponen program.
Komponen struktur menggambarkan: (1) definisi program peer counseling, (2) rasional pentingnya program peer counseling, dan (3) asumsi yang berisi prinsip yang mendasari program peer counseling.
Komponen program menggambarkan: (1) aktivitas-aktivitas utama dalam pelaksanaan program peer counseling, (2) peran dan tanggung jawab personil sekolah yang terlibat dalam program peer counseling.
Aktivitas-aktivitas yang termasuk komponen program adalah:
a. membuat rancangan program “peer counseling”, dengan melibatkan berbagai pihak terutama konselor profesional, kepala sekolah, persetujuan dan dukungan para guru dan administrasi. Isi perencanaan akan meliputi: pemilihan ”peer counselor” dan pelatihan bagi peer counselor, bentuk pelatihan, personil yang akan melatih dan kriterianya, biaya pelatihan, tempat pelatihan, berapa lama pelatihan akan dilakukan, pihak-pihak yang dimintai dukungan untuk pelatihan, keterampilan dasar konseling yang akan dilatihkan bagi peer counselor, pemahaman tentang pendekatan terapi realitas yang dijadikan kerangka pikir teoritik dan praktis dalam latihan konseling, serta evaluasi pelatihan.
b. Pelaksanaan pelatihan peer counselor (mulai dari teoritis sampai praktek).
Pelatihan dilaksanakan sesuai rencana, dan pendekatan terapi realitas dijadikan acuan dalam memahami hakekat peer counsele sebagai manusia, dan bagaimana masalah terjadi pada diri counsele, bagaimana mengarahkan peer counsele pada perubahan perilaku, dengan kerangka WDEP, bagaimana hubungan konseling harus terjalin antara konselor dengan konseli, prosedur dan teknik-teknik konseling, dan bagaimana menilai kemajuan konseli dalam konseling. Pelatihan keterampilan dasar konseling akan berguna untuk berkomunikasi dalam konseling, sesuai tahap-tahap konseling. Pelatihan konseling dilakukan berupa latihan melaksanakan konseling individual maupun konseling kelompok.
c. Bekerjanya peer counselor dalam melayani peer counselee pada counseling individual ataupun konseling kelompok dibawah pengawasan supervisor (konselor profesional)
d. Membahas berbagai kesulitan yang mungkin ditemui peer counselor, dan menindaklanjuti proses konseling jika perlu.
e. Melakukan evaluasi terhadap hasil kerja peer counselor, untuk peningkatan kemampuan peer counselor, dan mengkaji berbagai kekuatan dan kelemahan yang terjadi.
f. Mengkaji dampak program peer counseling pada peer counselor dan pada peer counselee.

6.1 Rancangan Program Peer Counseling
Pemilihan peer Counselor ;
– Menyampaikan gagasan dan pentingnya peer counseling pada siswa saat pelayanan konseling klasikal dikelas
– Memilih siswa sebanyak 4 orang tiap kelas untuk dilatih. Dengan jumlah kelas sebanyak 7 rombel pada kelas 9 maka akan diperoleh sebanyak 28 siswa calon peer counselor.
Pelatihan Peer Counselor
– Merancang model pelatihan pada siswa yang telah dipilih
– Menentukan etika dasar pelayanan konseling untuk peer counselor
– Jenis-jenis ketrampilan konseling yang perlu diberikan beserta panduannya
– Waktu pelaksanaan dan keterlibatan pihak-pihak yang diperlukan
Bentuk dan Waktu Pelatihan
– Pengembangan Kelas konseling setiap hari sabtu setelah jam pelajaran selesai selama 3 bulan (September – Nopember 2011) untuk memberikan pelatihan pada siswa yang telah ditentukan untuk menjadi peer counselor
Personil yang terlibat
– Kepala Sekolah
– Konselor
– Narasumber dari perguruan tinggi untuk memberikan penguatan peer counseling
Biaya Pelatihan
– Biaya pelatihan dibebankan dari APBS SMPN 1 Kasembon tahun 2011 – 2012 untuk jenis kegiatan pelayanan BK
– Perkiraan Besar biaya terlampir
Ketrampilan dasar yang dilatihkan
– Dasar – dasar ketrampilan komunikasi ; attending, summarizing, Questioning, Genuineness, Assertiveness/ketegasan, Confrontation, Problem Solving
– Pemahaman tentang terapi realitas toeri dan praktik
Evaluasi pelatihan
– Umpan balik dari peserta kelas peer counseling
– Kesulitan-kesulitan dan hambatan dalam pelaksanaan evaluasi pelatihan

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

LIPUTAN SEPUTAR BIMBINGAN KONSELING

ABKIN > http://abkin.org
KONSELING INDONESIA >http://konselingindonesia.com
ilmu psikologi dan bimbingan > konselingpsikonseling.blogspot.com
Forum komunikasi Bimbingan Konseling > bimbingankonseling.wordpress.com
Konseling Center Indonesia > eko13.wordpress.com
MGBK Kab Malang > http://www.facebook.com/home.php?ref=hp#!/home.php?sk=group_159612924082503&ap=1

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Penerapan Action Research untuk Layanan Konseling

Penerapan Action Research untuk Layanan Konseling [*]

Oleh:

Dr.LATIPUN.M.Kes

(Universitas Muhammadiyah Malang)

Pernahkah Anda merasa bahwa layanan konseling tak berjalan di sekolah? Atau layanan konseling yang kita berikan tidak mencapai hasil yang diharapkan? Pernahkah mengamati hasil hasil layanan konseling yang Anda lakukan dan diketahui bahwa cara terentu memperoleh hasil yang optimal? Pernahkan Anda merasa kecewa karena apa yang telah Anda jalankan bertahun-tahun tidak memperoleh hasil yang memuaskan hati?

Pertanyaan di atas perlu diajukan kepada konselor sekolah, karena kemungkinan layanan konseling merupakan pekerjaan yang dianggap:

  • Kurang dirasakan manfaatnya oleh klien.
  • Sulit diketahui hasilnya oleh konselor sendiri.
  • Tidak memberi kekuatan dan sumbangan bagi proses pembelajaran di sekolah.
  • Investasi yang terlalu mahal dibandingkan dengan hasil yang diperolehnya.

Sebagai suatu layanan, konseling semestinya dapat dilaksanakan dan dinikmati dan diketahui hasilnya oleh semua pihak: klien, konselor, guru, kepala sekolah, orang tua, dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah.

Pandangan bahwa hasil konseling adalah “abstrak” harus dapat dirumuskan menjadi lebih konkrit dan terukur. Jangan sampai konselor sendiri tidak memahami apa hasil yang dicapainya bertahun-tahun berkantor di ruang konseling itu. Kita bekerja dan berprofesi sebagai konselor juga harus tidak puas jika hanya “bekerja” saja, tanpa memahami hasil yang dicapainya dan dapat dirasakan oleh pihak lain. Oleh karena itu perlu greget dan semangat dari konselor agar layanan yang diberikan itu lebih efektif dan menghasilkan sesuatu yang dapat dirasakan oleh semua pihak di sekolah.

Penelitian tindakan lebih merupakan kritik diri oleh konselor sendiri terhadap apa yang dikerjalan dan dicapai atas layanan yang dilakukannya. Kritik diri itu dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik, dengan mencari model layanan yang “tepat sasaran” sesuai dengan kasus yang dihadapi. Pertanyaan-pertanyaan di atas memberi dorongan kepada kita untuk mengkaji pendekatan/cara/teknik yang tepat dan kreatif sehingga hasil lebih optimal. Dan cara yang dianggap sesuai dengan menemukan pendekatan/cara/teknik kreatif itu adalah penelitian tindakan (action research).

Mengapa Penelitian Tindakan?

Penelitian pelayanan konseling pada dasarnya banyak ragamnya, di antaranya:

  • Penelitian dasar
  • Penelitian tindakan

Penelitian dasar dijalankan untuk keperluan merumuskan konsep-konsep dasar bidang ilmu tertentu (termasuk di bidang konseling), sedangkan penelitian tindakan  dilakukan kalangan paktisi untuk mengatasi masalah-masalah praktis dari lingkup pekerjaannya.

Yang mendasari dari penelitian tindakan adalah pandangan bahwa “tidak ada praktik yang sebaik teorinya”. Ini berarti bahwa layanan konseling yang kita lakukan mungkin tidak sebaik teorinya, dan semestinya secara terus menerus praktik yang kita lakukan perlu dievalusi secara terbuka setiap saat oleh siapapun.

Konselor selalu mencari dan menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan kasus yang dihadapi oleh klien-kliennya. Penelitian tindakan konseling (PTK) merupakan cara yang tepat untuk menemukan cara itu. Dengan demikian diharapkan layanan konseling yang kita lakukan memperoleh hasil yang lebih optimal.

Jelas bahwa layanan konseling menghadapi masalah praktis, khususnya berkenaan dengan kasus dan dihadapi dan hasil/out put yang diharapkan. Jadi, yang kita hadapi bukan soal teoritik dari proses konseling, tetapi aspek praktisnya. Tuntutan yang sewajarnya pada diri kita adalah hendak memperbaiki aspek-aspek praktis dari pelayanan konseling yang dirasakan masih kurang efektif.

Pengertian

Pada dasarnya penelitian tindakan merupakan penelitian yang dilakukan di dalam dunia praktis, oleh praktisi, untuk praktisi. Dalam sebuah rumusan diartikan suatu proses formal untuk perbaikan yang menuntut menemukan/mengetahui, menganalisis, menginterpretasi dan melakukan tindakan atas apa yang terjadi di dalam (kelas dan) sekolah.

Penelitian tindakan konseling (PTK) merupakan penelitian tindakan yang dilakukan untuk menemukan, menganalisis, menginterpretasikan dan melakukan tindakan tertentu berkaitan dengan berbagai aspek layanan konseling untuk memperoleh hasil yang lebih optimal.

Hasil konseling yang optimal itu di antaranya berindikator sebagai berikut:

  • Persentase kehadiran siswa berkurang.
  • Peningkatan prestasi belajar
  • Peningkatan partisipasi belajar
  • Iklim belajar semaakin baik

Yang dapat diketahui dan pahami seluruh pihak yang berkepentingan di sekolah.

Dengan indikator yang lebih dirasakan manfaatnya oleh mereka ini PTK lebih terarah dan terfokus bagi perbaikan pelayanan yang diberikan selama ini. Penelitian yang kita lakukan menjadi terfokus untuk perbaikan dari apa yang kita lakukan daalam layanan konseling di sekolah.

Ciri Khas PTK

Berbeda dengan penelitian observasional yaitu mengamati gejala dari pihak luar, PTK dilakukan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1.      Melibatkan secara aktif semua actor (partisipan) yaitu peneliti sendiri dan subjek penelitian dalam keseluruhan proses penelitian. Dengan demikian, PTK dilakukan sebagai teamwork antara peneliti dengan partisipannya untuk memperoleh hasil yang mtindakanmal.

2.      Kegiatan PTK dilakukan dengan siklus: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Kegiatan siklus ini berlangsung beberapa kali untuk menghasilkan suatu “tindakan” yang efektif sebagaimana maksud PTK itu dilakukan.

3.      Namanya saja merupakan penelitian tindakan, yang dipelajari/diteliti adalah tindakan tertentu untuk menghasilkan out put yang lebih baik.

Siklus dalam PTK

Siklus itu apa? Siklus merupakan rangkaian kegiatan penelitian dari perencanaan sampai dengan refleksi. Dalam setiap siklus mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  • Perencanaan strategis
  • Tindakan yaitu mengimplementasikan rencana
  • Observasi, evaluasi dan evaluasi diri.
  • Refleksi kritis dan kritik diri sebagai hasil dari poin 1-3 dan pembuatan keputusan untuk siklus AR berikutnya

1. Perencanaan

Perencanaan PTK merupakan persiapan yang dilakukan peneliti berkenaan dengan raancangan penelitian yang hendak dilakukan. Perencanaan ini mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  • Menetapkan fokus masalah penelitian
  • Siapa partisipan dalam penelitian tersebut
  • Merancang apa langkah-langkah yang hendak dilakukan untuk mengatasi masalah
  • Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian

Dengan demikian perencanaan PTK merupakan perumusan desain penelitian secara umum. Untuk membantu (mengarahkan) calon peneliti dalam tahap persiapan ini ada sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab:

  • Apa yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini?

Dalam penelitian konseling, focus masalah yang dapat dijadikan perhatian konselor yang melakukan PTK, misalnya: disiplin siswa, kesulitan belajar, hubungan social, kejenuhan belajar, dan penggunaan waktu luang yang produktif.

  • Siapa saja partisipan yang dilibatkan dalam PTK?

Bagi konselor sekolah, partisipan yang dilibatkan dalam penelitian PTK adalah siswa. Tetapi perlu ditetapkan siswa dengan criteria apa saja, misalnya satuan kelas, kelompok siswa yang bermasalah tertentu.

  • Apa tindakan yang hendak dilakukan sebagai soluasi atas masalah yang dihadapi?

Tindakan atau soluasi ini secara tentative dapat disiapkan peneliti, tetapi aktualnya dibicarakan bersama dengan partisipan PTK. Kesepakatan antara peneliti dengan partisipan akan memperkuat hasil yang akan diperolehnya. Di sini ciri PTK sebagai teamwork menjadi lebih konkrit, peneliti dapat menjadi fasilitatornya.

  • Bagaimana cara solusi itu dijalankan, dinilai, dan direfleksikan?

Inipun harus dibicakan bersama antara peneliti dengan partisipan PTK ketika pada tahap persiapan ini.

2. Tindakan

Tindakan adalah solusi yang dilakukan secara bersama-sama antara peneliti dengan partisipan sebagai alternative penyelesaian atas masalah yang tlah dirumuskan. Oleh karena itu dalam PTK, tindakan merupakan inti dari proses penelitian. Tindakan dijalankaan secara bersama-sama sesuai dengan desain yang telah disiapkan. Dengan demikian, tindakan merupakan proses lapangan dari PTK.

Sebagai panduan dalam menjalankan aktsi ini sejumlah pertayaan diajukan di sini:

  • Bagaimana tahap-tahap menjalankan tindakan?
  • Siapa-siapa yang terlibat dan apa peran setiap mereka
  • Bahan dan alat apa yang diperlukan dalam melakukan tindakan itu?

Supaya tindakan yang dilakukan berjalan secara baik, semua partisipan dilibatkan secara aktif dalam keseluruhan proses penelitian (mulai perencanaan sampai refleksi).

3. Observasi

Observasi merupakan alat untuk melihat perkembangan dari proses dan hasil yang dicapai dari PTK. Observasi dilakukan oleh peneliti dan semua partisipan dalam penelitian PTK. Observasi ini boleh dikatakan sebagai kegiatan pengukuran terhadap keseluruhan proses dan hasil penelitian. Semua peristiwa berkenaan dengan PTK sebaiknya dicatat berdasarkan hasil observasi oleh peneliti dan partisipan.

4. Refleksi

Refleksi merupakan perkembangan pemahaman yang dicapai/peroleh oleh peneliti dan partisipan. Dalam refleksi ini diharapkan partisipan dapat mengalami (menyadari dan mengungkapkan) perkembangan dan perubahan yang terjadi ketika proses penelitian berlangsung.

Refleksi dilakukan dengan diskusi dan tukar pikiran antara peneliti dengan partisipan tentang segala yang berkembang selama penelitian. Dalam PTK, pandangan dan perasaan partisipan tentang kegiatan tindakan yang diikuti dicatat dan direkam sebagai refeksi atas proses PTK yang dilakukan.

Untuk menghasilkan cara yang baik, dalam PTK dilakukan beberapa kali siklus sampai hasilnya benar-benar memuaskan. Umumnya PTK dilakukan tiga siklus, meskipun tidak menutup kemungkinan dapat kurang atau lebih bergantung kepada bagaimana hasil yang kita peroleh.

ptk konseling

Proses Penelitian Tindakan

Secara terperinci proses AR dapat dilakukan sebagai berikut:

  • Mereview (menilai, mempelajari) pengalaman praktis Anda.
  • Mengidentifikasi aspek-aspek yang ingin Anda tingkatkan
  • Membayangkan (memikirkan) cara yang dapat digunakan untuk perbaikan tersebut.
  • Uji coba terhadap cara perbaikan
  • Ambil cadangan dalam apa yang terjadi
  • Memodifikasi rencana berdasarkan apa yang ditimbulkan
  • Evaluasi tindakan Anda
  • Evaluasi dan perubahan anda hingga hasilnya memuaskan.

Menulis Laporan PTK

Pada dasarnya menulis laporan PTK disesuaikan dengan kehendak pihak yang berkepentingan dengan laporan tersebut. Dalam PTK di bidang konseing sekolah, pastilah laporan itu disesuaikan dengan kepentingan pihak misalnya pengawas pendidikan, kepala sekolah, atau departemen pendidikan. Sebenarnya tidak ada ketentuan khusus berkenaan dengan penulisan laporan ini.

Pada bagian ini akan dikemukakan sistematika laporan PTK yang dituliskan di Pelangi Pendidikan yang diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional, yang dapat dijadikan acuan dalam penulisan laporan PTK. Sistematikanya sebagai berikut.

  • Pendahuluan
  • Kajian pustaka & hipotesis tindakan
  • Metodologi penelitian
  • Hasil penelitian dan pembahasan
  • Kesimpulan dan saran

1.      Pendahuluan

l  Latar belakang

l  Rumusan masalah

l  Tujuan penelitian

l  Manfaat penelitian

2.      Kajian pustaka & hipotesis tindakan

l  Kajian pustaka

l  Hipotesis tindakan

3.      Metodologi penelitian

l  Setting penelitian (waktu & tempat)

l  Persiapan penelitian (alat/ bahan)

l  Siklus penelitian (prosedur/ tahapan)

4.      Hasil penelitian & pembahasan

Perencanaan, pelaksanaan, hasil, dan refleksi pada:

l  Siklus I

l  Siklus II

l  Siklus III

5.      Kesimpulan & saran

l  Kesimpulan

l  Saran

Daftar Pustaka

Winter, R. 1996. Some principles and procedure for the conduct of action research. Dalam Zuber-Skreeeitt, O. (Editor). New directions in action research. London: The Falmer Press.

Merrill, C. 2004. Action research and technology education. The Technology Education, 63 (8): 1-6.

Cunningham, J.B. 1995. Strategic considerations in using action research for improving personnel practices. Public Personnel Management, 25 (4): 504-515.


[*] Makalah disampaikan pada Workshop Penelitian Tindakan Konseling yang diselenggarakan Ikatan Konselor Sekolah Indonesia Lombok Timur di Selong pada 10 Mei 2008.

Posted in pengembangan profesi | Leave a comment

WORKSHOP MGBK KAB.MALANG

workshop “ACTION RESEACH UNTUK PENINGKATAN KOMPETENSI KONSELOR” Menjawab kebutuhan guru Bimbingan Konseling dalam memenuhi target pengajuan angka kredit dalam permen PAN no 16 2009 (pasal 17 ayat 2) : “Kegiatan pengembangan profesi dalam bentuk publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif sudah … Continue reading

Gallery | Tagged | Leave a comment

PENGGUNAAN VIDEOTERAPI

PENGGUNAAN VIDEOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI INTERNAL PADA SISWA KELAS IXB DI SMP NEGERI 1 KASEMBON MALANG TAHUN PELAJARAN 2010 – 2011*)

Oleh : ARIEF MUSTAFA, S.Pd

Guru BK di SMP Negeri 1 Kasembon Malang

(KLIK DISINI UNTUK MELIHAT REAKSI PSIKOLOGIS SELAMA VIDEOTERAPI)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Ketika dunia pendidikan masih dikuasai oleh penilaian-penilaian kognitif dan cenderung mengabaikan moralitas dan spiritualitas, maka hasilnya dapat kita lihat saat ini. Kerusakan moral generasi muda ; penyalahgunaan narkoba, pornografi, kekerasan, perkelahian, pergaulan seks bebas, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai pelajaran yang baik dll. Pada generasi yang terdahulu, dan telah memegang kekuasaan maka andil dunia pendidikan yang hanya mengandalkan aspek kognitif adalah melahirkan banyak koruptor dinegeri ini, penegak hukum yang merusak hukum itu sendiri, para politisi yang tidak mampu berempati dengan kesulitan hidup rakyatnya. Dunia pendidikan sebagai benteng terakhir tempat membentuk moralitas dan kepribadian seseorang telah lama mengalami degradasi dan penyempitan makna. Keberhasilan pendidikan diukur hanya dari ukuran-ukuran kognitif seperti nilai raport, nilai ujian nasional dan ujian sekolah.

Kesadaran akan “revolusi dunia pendidikan” mulai muncul baru ditahun 2010 ketika pemerintah melalui kementerian Pendidikan Nasional meluncurkan program “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa”. Program ini diharapkan mampu membawa dunia pendidikan bukan hanya membangun kognitif siswa melainkan juga mengintegrasikan nilai-nilai mulia (18 nilai yang perlu dikembangkan guru) yang berkembang dimasyarakat kedalam setiap mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut diantaranya; jujur, nilai spiritualitas, tanggung jawab, disiplin, cinta tanah air dll. Andaikata konsep kurikulum ini dapat diterima dan diimplementasikan oleh semua guru di Indonesia, maka dalam satu generasi kedepan akan lahir generasi baru yang lebih jujur, amanah dan adil. Meskipun, sayangnya, sampai hari ini, implementasinya ditingkat sekolah, mengalami masalah-masalah serius baik karena hambatan keterbatasan pemahaman guru terhadap kurikulum tersebut, sosialisasi yang kurang merata, bahkan terkadang, justru hambatan dari kepala sekolah sebagai penentu kebijakan setingkat sekolah.

Upaya menumbuhkan nilai-nilai moralitas dan spiritualitas melalui kurikulum Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dikalangan siswa, haruslah diupayakan untuk membangun benteng moralitas dan spiritualitas dari dalam diri siswa (motivasi internal). Motivasi internal sebagai dorongan yang tumbuh dari dalam diri siswa akan memiliki kekuatan dan daya tahan yang lebih lama bahkan barangkali akan dibawa nilai-nilai tersebut oleh siswa seumur hidupnya dan dijadikan jalan hidup yang terbaik. Motivasi internal akan muncul jika para guru mampu menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya nilai nilai spiritual dan moralitas untuk dijadikan pegangan hidup. Dengan memiliki kekuatan motivasi internal, dalam situasi dan lingkungan apapun, siswa tersebut tidak akan terpengaruh.

Banyak cara dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi internal diantaranya melalui internalisasi dari figur guru yang mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari perilaku religius dan bermoral, pemberian teladan. Bagi guru BK (Bimbingan Konseling) dapat menggunakan teknik-teknik dalam konseling pertumbuhan (developmental counseling) baik untuk konseling individual maupun kelompok, atau salah satunya yaitu; menggunakan videoterapi untuk meningkatkan motivasi internal siswa. Videoterapi itu sendiri merupakan salah satu teknik konseling yang menggunakan fasilitas teknologi audio visual (dengar – pandang) sebagai kekuatan mendorong proses dan kemajuan konseling.

Dalam kehidupan sehari-hari, video maupun film memiliki kekuatan dan pengaruh yang besar terhadap munculnya perilaku seseorang baik positif maupun perilaku negatif. Betapa banyak perilaku yang lahir akibat aspek peniruan (baca; imitasi perilaku). Disekolah, perilaku negatif siswa seringkali merupakan hasil peniruan perilaku para artis di TV maupun film-film seperti model rambut, cara berpakaian, cara berpacaran, cara bergaul, penggunaan narkoba dll. Konon ketika kasus mutilasi manusia pertama di Indonesia ditayangkan di TV akhir tahun 1989-an, banyak kriminolog yang meyakini bahwa, kasus serupa akan berdampak besar pada perilaku kriminal dimana perilaku mutilasi akan menjadi trend baru dalam pembunuhan, saat ini kasus tersebut hampir setiap tahun selalu terjadi. Ini menunjukkan pengaruh yang luar biasa dari video maupun film pada masyarakat secara umum. Konten dari sebuah video maupun film akan menentukan apakah perilaku imitasi tersebut akan bersifat negatif atau positif. Video atau film sebagai sebuah teknologi kekinian, sebenarnya bebas nilai. Teknologi bermanfaat jika digunakan untuk tujuan-tujuan baik sementara akan menghancurkan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kurang baik. Video yang digunakan dalam teknik videoterapi adalah video maupun film yang mampu membangkitkan emosi dan perasaan klien atau siswa untuk terlibat didalamnya. Tumbuhnya emosi memberi jalan pencerahan (katarsis) sehingga muncul wawasan baru dan perilaku baru.

Dengan menggunakan videoterapi diharapkan tumbuhnya motivasi internal siswa. Motivasi internal yang diharapkan adalah kemampuan siswa untuk menggunakan nilai-nilai spiritual dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari

B. RUMUSAN MASALAH

Dari latarbelakang diatas, maka masalah yang hendak diteliti dalam penelitian ini adalah ; 1. Apakah motivasi internal pada siswa kelas IX B SMPN I Kasembon dapat tumbuh setelah menjalani videoterapi ?

2. Bagaimana dampak emosional siswa SMPN 1 Kasembon Malang setelah menjalani videoterapi ?

 C. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah diatas, peneliti merumuskan tujuan penelitian sebagai berikut ;

1. Ingin mengetahui peningkatan motivasi internal pada siswa setelah menjalani videoterapi

2. Ingin mengetahui dampak emosional siswa selama dan setelah menjalani videoterapi

D. HIPOTESIS PENELITIAN

Hipotesis dalam penelitian ini adalah bahwa penggunaan videoterapi dapat meningkatkan motivasi internal siswa

E. MANFAAT PENELITIAN

Diharapkan penelitian ini memberi manfaat bagi ;

1. Siswa ; tumbuhnya motivasi internal setelah menjalani videoterapi

2. Guru BK ; guru BK memperoleh alternatif dalam model-model konseling dan psikoterapi

3. Peneliti ; Peneliti memperoleh wawasan baru dalam hal penerapan videoterapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. MOTIVASI INTERNAL …………………………………….

B. PENGERTIAN VIDEO TERAPI

Dalam perkembangan teknologi digital saat ini yang sangat pesat, penggunaan video tidak lagi terbatas untuk tujuan-tujuan hiburan semata, melainkan telah merambah pada bidang konseling dan psikoterapi. Video sebagai sebuah sarana audio visual diyakini mampu mengubah perilaku seseorang.

Salah satu pengertian videoterapi diungkapkan dalam situs : http://www.psychologicalprespective.com sebagai berikut “Video therapy is a tool which harnesses the best of technology to enhance the process and progress of psychotherapy”. Video therapy consists of taping and viewing psychotherapy sessions to provide vivid, real-life, present-moment feedback to clients to help them understand feelings and dimensions of themselves otherwise hard to access.

Video memiliki kelebihan dalam mem-feedback kembali perasaan-perasaan, emosi dan masalah yang pernah dihadapi klien atau mengidentifikasi masalah klien dengan film yang dihadapi baik melalui penayangan film yang sesuai dengan masalah yang dihadapi maupun recording (perekaman) selama proses konseling yang telah dijalankan. Bahkan video dapat digunakan dengan menerapkan teknik roleplaying dimana klien dapat memainkan peran layaknya pemain film, atau menyusun naskah sendiri berkaitan dengan masalah yang dihadapi.

Videoterapi memberi jalan untuk membantu bagi konselor untuk memahami perasaan dan ekspresi klien ketika sedang berada diperistiwa-peristiwa yang menyentuh dirinya atau kehidupan nyata yang persis seperti yang dialaminya. Ada beberapa model yang dapat digunakan dalam videoterapi seperti ; pertama, penayangan film dan video yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi. Kedua, melihat kebelakang ekspresi klien selama menjalani proses konseling untuk mengetahui perasaan-perasaan dan ekspresi dibalik gesture dan mimik klien. Ketiga, menggunakan teknik role playing pada klien untuk memerankan adegan-adegan sesuai dengan masalah yang dihadapi. Teknik role playing ini, menggunakan naskah (skrip) layaknya naskah sinetron maupun film dimana pemerannya adalah klien dan konselor secara bergantian. Klien dapat diajak menyusun sendiri naskah yang akan diperankan sesuai dengan masalah yang dihadapinya.

Doctor Gaetano Giordano sejak tahun 1987 telah menerapkan praktik psikoterapi yang disebutnya sebagai Video Movie Therapy (VMT) pada kasus-kasus seperti ; panic syndrome (sindroma kepanikan), obsessive disorders (kekalutan obsesif), phobia (ketakutan-ketakutan), anxiety (kecemasan), dan depressive disorders (baca pada situs http://videotherapyreport.wordpress.com). Video Movie Therapy (VMT) diterapkan pada terapi kelompok yang terdiri dari 5 – 8 orang dimana setiap minggu bertemu selama 3,5 jam. Setiap anggota kelompok menyusun naskah, memainkan peran secara berbeda sebagai aktor dan mengikuti fase editing. Masing-masing scene ditulis dan dishooting sebelum ke scene berikutnya.

Sementara itu, Sharon Dole dan Joanna McMahan dalam artikelnya yang berjudul “Using Videotherapy to Help Adolescents Cope with Social and Emotional Problems” (baca di situs : http://www.questia.com) mengungkapkan penggunaan video terapi untuk mengatasi masalah kemampuan belajar yang rendah dan masalah-masalah perilaku siswa disekolah. Proses dan tujuan videoterapi yaitu guru dan siswa mendiskusikan tema dan karakter dalam cerita serta yang berhubungan dengan kehidupan siswa itu sendiri. Video terapi lebih dari sekedar melihat film dan mendiskusikannya tetapi melibatkan 3 tahapan yaitu ; identification, catharsis, dan insight (Afolayan, 1992). Pada tahap identifikasi, siswa mengidentifikasi dengan karakter dalam video atau film tersebut. Ketika, siswa telah terlibat secara emosi dengan video atau film maka katarsis muncul. Perasaan emosional siswa pada video atau film membuat siswa mengetahui bahwa tidak hanya mereka sendiri yang menghadapi masalah tersebut. Sebagai analisis karakter dari video atau film tersebut, siswa menggunakan ketrampilan berpikir kritis dan problem solving yang dapat mereka terapkan untuk mengubah perilaku.

C. VIDEOTERAPI DI SMPN 1 KASEMBON MALANG

Videoterapi diberikan dalam rangka meningkatkan motivasi internal siswa kelas IX. Motivasi ini diperlukan untuk mempersiapkan diri siswa menghadapi Ujian Nasional. Tumbuhnya motivasi internal sebagai kekuatan diri yang luar biasa akan muncul jika siswa dapat dikondisikan dalam situasi tertentu yang memungkinkan siswa untuk merenungkan kembali perilaku baik dalam belajar maupun dalam interaksi dengan siswa lain dan guru serta persepsi mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Kekuatan motivasi internal akan mampu mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik dan percaya diri. Videoterapi yang digunakan dalam bimbingan kelompok di SMPN 1 Kasembon memanfaatkan video dari ESQ training yaitu Rahasia Menuju Sukses ESQ dan Guruku Sahabatku. Video ini merupakan penggabungan dua video yang berbeda dan berdurasi seluruhnya 27 menit 48 detik. Satu video tentang Rahasia menuju Sukses ESQ dengan motivator Ary Ginanjar Agustin berdurasi 12 menit (dikutip dari TVOne, 4 September 2010) dan disambung dengan video Guruku Sahabatku dari ESQ Training dengan motivator Ridwan Mukri, selama 15 menit 48 detik, setelah mengalami proses editing terlebih dahulu.

Kedua video tersebut dipilih karena dipandang dapat membawa suasana emosional siswa pada kenyataan sehari-hari terutama dalam hubungannya dengan guru – siswa dengan sudut pandang religius. Video ini penuh dengan sentuhan religius untuk menggugah emosi siswa sehingga muncul apa yang disebut oleh Sharon Dole dan Joanna McMahan yaitu ; identifikasi, katarsis dan insight (pemahaman).

Tahap-tahap pelaksanaan videoterapi di SMPN 1 Kasembon Malang diantaranya ;

1. Penyusunan RPBK (Rencana Pelaksanaan Bimbingan Konseling)

2. Pemilihan bahan video yang akan diberikan kepada siswa

3. Editing video yang telah dipilih dengan menggunakan software editing video yaitu Pinnacle 14 ultimate dan Ulead Video Studio 8

4. Mendiskusikan dengan kolaborator untuk menentukan langkah-langkah dan materi yang akan diberikan diawal dan diakhir penayangan video

5. Mempersiapkan sarana diruang kelas yang dijadikan subyek penelitian. Sarana disini meliputi ; media sumber berupa video, LCD dan Screen Proyektor, Sound system, kabel konektor komputer ke LCD dan Komputer ke Sound System, Kamera profesional PANASONIC MD 10000 untuk merekam reaksi emosional siswa (bisa juga menggunakan Handycam) serta Laptop

6. Pemberian pengantar sebelum penayangan video untuk menggugah emosi dan perasaan siswa.

7. Penayangan video dan perekaman (recording) video reaksi emosional siswa selama penayangan video tersebut untuk menegetahui ada tidaknya pengaruh video tersebut terhadap emosi siswa

8. Refleksi dan evaluasi terhadap tayangan video

D. PENGGUNAAN VIDEOTERAPI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI INTERNAL SISWA SMPN 1 KASEMBON MALANG ………………………………………….

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

 A. SETTING PENELITIAN

A.1 WAKTU PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan semester genap tahun pelajaran 2010 – 2011 di SMP Negeri 1 Kasembon Kabupaten malang mulai bulan Maret – April 2011 dengan uraian sebagai berikut ;

a. 7 – 12 Maret 2011 : penyusunan dan Pengajuan Proposal PTK

b. 14 – 26 Maret 2011 : Penyiapan media dan bahan termasuk editing video

c. 28 – 30 Maret 2011 : Penyusunan Instrumen Penelitian

d. 31 Maret – 5 April 2011 : Pengumpulan data PTK siklus ke 1

e. 6 – 9 April 2011 : Analisis data PTK siklus ke 1

f. 11 – 16 April 2011 : Pengumpulan data PTK siklus ke 2 g. 18 – 23 April 2011 : Analisis data PTK siklus ke 2 h. 25 – 30 April 2011 : Pembahasan dan Laporan Hasil Penelitian

A.2 TEMPAT PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kasembon Kabupaten Malang kelas IX B B. SUBYEK PENELITIAN Adapun subyek penelitian ini adalah siswa kelas IXB semester 2 tahun pelajaran 2010-2011, dengan jumlah siswa sebanyak 34 siswa terdiri dari 15 Laki-laki dan 19 Perempuan

C. SUMBER DATA

Sumber Data Penelitian berupa ; anecdot record siswa, angket siswa, reaksi psikologis dan emosional siswa selama menjalani videoterapi dalam bentuk video rekaman

D. TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA

D.1 Teknik pengumpulan data menggunakan ;

1. Non tes ; pengamatan melalui video rekaman proses videoterapi, angket dan anecdot record

D.2 Alat Pengumpul data Alat pengumpul data disesuaikan dengan teknik yang dipakai. Karena teknik yang dipakai adalah non tes maka alatnya adalah Pedoman pengamatan, angket dan anecdot record

 

*) Penelitian Tindakan Kelas ini masih dalam tahap pengembangan dan saat posting artikel ini masih dalam proses PTK untuk mengetahui dampaknya terhadap motivasi internal siswa. Penelitian serupa sangat diharapkan dapat diaplikasikan pada guru BK di seluruh Nusantara. Sebab penelitian serupa masih sangat sulit ditemui di Indonesia sehingga memberi keterbatasan pada referensi yang dapat dijadikan rujukan. Video yang dilampirkan dalam posting artikel ini, merupakan reaksi fisik, psikologis dan emosional siswa ketika melihat penayangan video sedangkan sejauhmana reaksi emosional siswa dapat meningkatkan motivasi internal masih dalam penelitian.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TUNJANGAN PROFESI GURU DIBAYAR TIAP ENAM BULAN SEKALI

Pemerintah mengalokasikan tunjangan profesi guru pegawai negeri sipil daerah (PNSD) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010 sebesar Rp10,99 triliun.
Keputusan itu dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor: 117/PMK.07/2010 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Sementara Tunjangan Profesi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah kepada Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota Tahun Anggaran 2010.

Dalam Permenkeu itu dijelaskan bahwa tunjangan profesi diberikan kepada guru PNSD yang telah memiliki sertifikat pendidik dan memenuhi persyaratan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan untuk kuota 2006 hingga 2009.

Tunjangan profesi guru PNSD diberikan satu kali gaji pokok PNS yang bersangkutan sesuai ketentuan perundang-undangan, terhitung mulai 2010. Penyaluran tunjangan dilakukan secara semesteran (enam bulanan), yaitu semester pertama (Januari-Juni) dilakukan pada Juni 2010.

Sedangkan semester kedua (Juli-Desember) dilakukan pada November 2010. Tunjangan profesi guru PNSD tidak termasuk untuk bulan ke-13.

Sementara itu, berdasarkan Permenkeu Nomor: 119/PMK.07/2010, khusus kepada guru PNSD yang belum mendapatkan tunjangan profesi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mendapatkan tambahan penghasilan sebesar Rp250 ribu per orang per bulan, terhitung mulai 1 Januari 2010.

Dana tambahan penghasilan bagi guru PNSD disalurkan per enam bulanan (semesteran), yaitu semester pertama (Januari-Juni) dilakukan pada Juni dan semester kedua (Juli-Desember) dilakukan pada November 2010.

Namun, tambahan penghasilan guru PNSD ini tidak termasuk untuk bulan ke-13.

Pembayaran tunjangan profesi dan tambahan penghasilan kepada masing-masing guru PNSD paling lambat Juli 2010 untuk semester pertama dan Desember 2010 untuk semester kedua.

Pembayaran tunjangan dan tambahan penghasilan kepada masing-masing guru PNSD dikenakan pajak penghasilan pasal 21 dengan tarif 15 persen bersifat final sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

• VIVAnews

Permenkeu No 117/PMK 07/2010 dapat di unduh disini
Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERKEMBANGAN REMAJA

Bahan Dikutip dari : http://eko13.wordpress.com
Beberapa Isu
Seksualitas Sebagai Isu Perkembangan Remaja Masa remaja diawali oleh datangnya pubertas, yaitu proses bertahap yang mengubah kondisi fisik dan psikologis seorang anak menjadi seorang dewasa. Pada saat ini terjadi peningkatan dorongan seks sebagai akibat perubahan hormonal. Selain itu, karakteristik seks primer dan sekunder menjadi matang sehingga memampukan seseorang untuk bereproduksi (Steinberg, 2002). Namun bukan hanya pubertas saja yang menjadikan seksualitas sebagai isu penting dalam hal perkembangan remaja.
Dalam tahapan perkembangan psikososial yang yang dikemukan Erikson, dinyatakan bahwa tugas utama yang dihadapi remaja adalah membentuk identitas personal yang stabil, kesadaran yang meliputi perubahan dalam pengalaman dan peran yang mereka miliki, dan memungkinkan mereka untuk menjembatani masa kanak-kanak yang telah mereka lewati dan masa dewasa yang akan mereka masuki (Stevens-Long & Cobb, 1983). Pemahaman mengenai seksualitas seseorang merupakan bagian dari upaya pembentukan identitas personal yang stabil, karena dengan mengembangkan sikap yang sehat mengenai keberadaan diri sebagai makhluk seksual, seseorang juga memahami nilai-nilai, keyakinan, sikap, dan batasan-batasan yang dimilikinya; dan akan memampukannya untuk dapat merasa nyaman menjadi dirinya sendiri (Shibley, 1997).
Sebenarnya sebelum memasuki usia remaja, anak sudah memiliki keingintahuan akan seks. Mereka bahkan dapat terlibat dalam aktifitas seksual. Mereka dapat berciuman, masturbasi, bahkan melakukan sexual intercourse (Steinberg, 2002). Seperti yang diungkapkan Weis (2000), kemampuan untuk berinteraksi secara erotis dan untuk mengalami perasaan seksual, dengan sesama ataupun berbeda jenis kelamin, secara jelas ditunjukkan pada usia 5 sampai 6 tahun. Dalam observasi yang dilakukan Langfeldt (dalam Weis, 2000) menunjukkan anak laki-laki yang belum memasuki pubertas dan sedang melakukan permainan seksual dengan anak lain menunjukkan ereksi pada penisnya selama permainan seksual itu berlangsung. Bahkan Fond dan Beach (dalam Weis, 2000) menemukan bahwa anak-anak yang memiliki kesempatan mengamati kegiatan seksual yang dilakukan orang dewasa, cenderung terlibat dalam persetubuhan pada usia minimal 6-7 tahun.
Namun dalam permainan seksual itu, anak tidak melakukan introspeksi dan refleksi mengenai perilaku seksual (Steinberg, 2002). Mereka melakukannya karena tindakan itu memberikan sensasi nikmat sebagai reward dari tindakan mereka itu. Tindakan mereka lebih didasari oleh rasa ingin tahu daripada motivasi seksual yang sesungguhnya (Sullivan dalam Steinberg, 2002). Berbeda dengan remaja yang sudah mampu mengambil keputusan apakah ia akan terlibat dalam aktifitas seksual itu, dan mempertimbangkan apakah pasangan akan menolaknya, apakah dirinya terlihat baik di mata pasangannya, dan sebagainya.
Masa remaja menjadi sebuah titik balik dalam perkembangan seksualitas karena menandakan awal mula seseorang bertingkah laku seksual karena memiliki motivasi seksual yang disadari bermakna seksual secara eksplisit, oleh diri sendiri dan orang lain (Steinberg, 2002). Dengan demikian remaja harus memenuhi tugas perkembangan mereka, untuk memahami bagaimana menangani minat seksual mereka dan menjadikan seks sebagai bagian dari kehidupan personal dan sosial mereka (Steinberg, 2002).
Remaja dan Self-esteemMenurut Reasoner (2004), sebanyak 12% individu menunjukkan adanya penurunan self-esteem setelah memasuki sekolah menengah pertama, dan 13% memiliki self-esteem yang rendah pada sekolah menengah. Remaja wanita dikatakan mengalami kenaikan self-esteem pada usia antara 18 hingga 23 tahun melalui aspek-aspek moral dan hubungan pertemanan. Pada remaja, perubahan self-esteem terjadi pada 3 dimensi, yakni dalam hubungan personal, ketertarikan dengan lawan jenis, serta kompetensi dalam pekerjaan.
Permasalahan yang sering dialami dalam masa remaja adalah masalah tidak percaya diri karena tubuhnya dinilai kurang / tidak ideal baik oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri, atau merasa tidak memiliki kelebihan yang bisa dipakai sebagai modal dalam bergaul. Rasa kurang percaya diri ini kemudian menyebar ke hal-hal yang lain, misalnya malu untuk berhubungan dengan orang lain, tidak percaya diri untuk tampil di muka umum, menarik diri, pendiam, malas bergaul dengan lawan jenis atau bahkan kemudian menjadi seorang yang pemarah, sinis, dll. Dalam perkembangan sosial remaja, self-esteem yang positif sangat berperan dalam pembentukan pribadi yang kuat, sehat dan memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan, termasuk mampu berkata “tidak” untuk hal-hal yang negatif dengan kata lain tidak mudah terpengaruh berbagai godaan yang dihadapi seorang remaja setiap hari dari teman sebaya mereka sendiri (peer pressure) (Utamadi, 2001).
Self-esteem yang rendah akan memperlemah hubungan yang dibina dengan orang lain, sedangkan self-esteem yang tinggi akan mendukung remaja untuk mengembangkan hubungan mereka dengan orang lain. Selain itu, Masters & Johnson (2001) juga mengatakan bahwa self-esteem ini juga berpengaruh terhadap sikap seseorang terhadap statusnya sebagai remaja. Seorang remaja yang memiliki self-esteem yang positif maka ia tidak akan mudah terbawa godaan yang banyak ditawarkan oleh lingkugan. Misalnya dari sebuah penelitian, ditemukan bahwa. remaja yang mempunyai self-esteem rendah cenderung lebih mudah mencoba menyalahgunakan obat-obatan atau mengkonsumsi napza.
Orientasi Masa Depan dalam Bidang PendidikanDi antara orientasi masa depan yang mulai diperhatikan pada usia remaja, orientasi masa depan remaja akan lebih terfokuskan dalam bidang pendidikan. Hal ini dinyatakan oleh Eccles (dalam Santrock, 2004), dimana usia remaja merupakan usia kritis karena remaja mulai memikirkan tentang prestasi yang dihasilkannya, dan prestasi ini terkait dengan bidang akademis mereka. Suatu prestasi dalam bidang akademis menjadi hal yang serius untuk diperhatikan, bahkan mereka sudah mampu membuat perkiraan kesuksesan dan kegagalan mereka ketika mereka memasuki usia dewasa (Santrock, 2001).
Penelitian yang dilakukan Bandura (dalam Santrock, 2001) terkait dengan prestasi remaja, diketahui kalau prestasi seorang remaja akan meningkat bila mereka membuat suatu tujuan yang spesifik, baik tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Selain itu, remaja juga harus membuat perencanaan untuk mencapai tujuan yang telah dibuat. Dalam proses pencapaian tujuan, remaja juga harus memperhatikan kemajuan yang mereka capai, dimana remaja diharapkan melakukan evaluasi terhadap tujuan, rencana, serta kemajuan yang telah mereka capai (Santrock, 2001), sehingga dapat dikatakan kalau orientasi masa depan yang dimiliki remaja akan lebih terkait dengan bidang pendidikan.
Remaja dan Perilaku KonsumtifHurlock (1991) menyatakan salah satu ciri masa adalah masa yang tidak realistik. Pada masa ini, umumnya remaja memandang kehidupan sesuai dengan sudut pandangnya sendiri, yang mana pandangannya itu belum tentu sesuai dengan pandangan orang lain dan juga dengan kenyataan. Selain itu, bagaimana remaja memandang segala sesuatunya bergantung pada emosinya sehingga menentukan pandangannya terhadap suatu objek psikologis. Sulitnya, emosi remaja umumnya belum stabil. Secara psikososial terlihat perkembangan remaja pun memandang dan menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan peran mereka sebagai konsumen.
Seiring perkembangan biologis, psikologis, sosial ekonomi tersebut, remaja memasuki tahap dimana sudah lebih bijaksana dan sudah lebih mampu membuat keputusan sendiri (Steinberg, 1996). Hal ini meningkatkan kemandirian remaja, termasuk juga posisinya sebagai konsumen. Remaja memiliki pilihan mandiri mengenai apa yang hendak dilakukan dengan uangnya dan menentukan sendiri produk apa yang ingin ia beli. Namun di lain pihak, remaja sebagai konsumen memiliki karakteristik mudah terpengaruh, mudah terbujuk iklan, tidak berpikir hemat, kurang realistis
Dalam kaitannya dengan perilaku remaja sebagai konsumen, walaupun sebagian besar tidak memiliki penghasilan tetap, tetapi ternyata mereka memiliki pengeluaran yang cukup besar. Sebagian besar remaja belum memiliki pekerjaan tetap karena masih sekolah. Namun, para pemasar tahu bahwa sebenarnya pendapatan mereka tidak terbatas, dalam arti bisa meminta uang kapan saja pada orang tuanya (Loudon & Bitta, 1984).
Salah satu fungsi aktivitas remaja adalah fungsi ekonomi. Jumlah populasi remaja dan fakta bahwa remaja kurang terampil dalam mengelola keuangan daripada kelompok usia lainnya yang menyebabkan remaja menjadi target menarik bagi bermacam-macam bisnis (Fine et al., 1990 dalam Steinberg, 2000). Dalam usianya, remaja cenderung belanja lebih impulsive, dimana usia 18-39 tahun kecenderungan belanja impulsive meningkat (Wood, 2003).
Remaja dan keluargaKeluarga merupakan suatu sistem yang bersifat dinamis. Keluarga merupakan sistem yang hampir sama dengan manusia, ia berkembang berdasarkan waktu. Perubahan terjadi di dalam keluarga, keluarga pada waktu anak berada pada tahap perkembangan anak berbeda dengan keluarga pada waktu anak sudah beranjak dewasa.
Pada umumnya orang tua yang memiliki anak yang sudah berada dalam tahap perkembangan remaja berada pada usia 35-40 tahun. Pada usia ini orang tua sering mengadakan perubahan dari kehidupannya sebelumnya. Orang tua mulai untuk menarik diri dan cara berpikirnya berusaha untuk mencari cara yang aman.Tidak hanya orang tua yang bertambah usianya, anak pun mulai beranjak remaja. Ia mulai untuk bersikap mandiri. Perubahan pada orang tua membawa dampak pada hubungan remaja dengan orang tua. Sebelumnya, anak mencari nasihat dari orang tua, sedangkan sekarang remaja mulai merasa dirinya lebih mudah dipahami oleh teman-temannya. Remaja sering merasa orang tua kurang memberi kebebasan yang bertanggung jawab. Orang tua tetap bersikap otoriter. Perbedaan perilaku dan kebutuhan ini mengaibatkan keduanya berada dalam permasalahan. Perubahan-perubahan yang ada di dalam keluarga ini membuat keluarga berada dalam keadaan yang tidak seimbang, maka perlu dicari pemecahannya agar keluarga berada kembali dalam keadaan yang homeostatis.
Gambar : Konseling Kelompok (dikutip dari :najmaskyrana01.blogspot.com/2010/03/konseling…)
Kebutuhan dari masing-masing pihak, baik dari orang tua maupun dari anak yang berada pada masa remaja ini ingin dipenuhi. Menurut Mappiare (1982), kebutuhan remaja yang menuntut pemenuhan dari orang tua adalah pengakuan sebagai orang yang mampu untuk menjadi dewasa, perhatian dan kasih sayang.Kontrol dari orang tua juga menjadi hal yang penting bagi remaja, menurut Blood (dalam Purwati,1989), ada bebepa hal yang berkaitan dengan kontrol orang tua, yaitu:
1. Dalam menentukan standar dari tingkah laku yang dituju
a. Bagaimana ketepatan dan kejelasan peraturan yang dibuat (firmness).
Jika orang tua menetapkan patokan (standart) yang jelas dan pasti bagi anak – anaknya dimana disertai dengan kebebasan di dalam patokan yang telah ditentukan, maka anak akan mendapat lingkungan yang baik bagi perkembangan sosialnya. Jika orang tua tidak memberikan patokan dan peraturan yang jelas maka berarti anak tidak dilindungi dari arah perkembangan yang dapat membahayakan penyesuaian sosial maupun kepribadiannya.
b. Konsistensi
Jika norma – norma atau peraturan yang diberikan ingin efektif, maka peraturan tersebut haruslah dimengerti, jelas dan konsisten dalam pelaksanaannya. Ketidakjelasan dapat tampil jika kedua orang tua menerapkan peraturan yang berbeda, atau dalam pelaksanaannya seringkali tak tetap. Dari hasil penelitian Peck (1958) didapatkan bahwa anak – anak dari keluarga yang menetapkan konsistensi dari peraturan yang ditetapkan akan membentuk anak yang secara emosi matang, kata hatinya kuat, dan mampu untuk menepati peraturan – peraturan sosial.
c. Peraturan yang dapat diterapkan
Mengharapkan terlalu banyak atau terlalu rendah akan patokan – patokan yang harus dikuasai anak, tidak akan membentuk anak menjadi matang. Jika standar terlalu rendah anak menjadi tidak terdorong untuk maju, jika terlalu tinggi anak akan kecewa karena tidak dapat mencapainya. Jadi standar yang ditentukan harus disesuaikan dengan tingkatan usia dengan kondisi seperti ini anak akan terdorong maju untuk menguasai sesuatu tujuan.
d. Penjelasan (reasoning)
Peraturan yang diiringi penjelasan akan mampu membentuk kontrol yang bersifat intrinsik, sedangkan jika tanpa penjelasan maka anak tidak akan mampu untuk mematuhinya karena peraturan tersebut bersifat eksternal, dimana kepatuhan yang ada hanya tergantung dengan adanya kehadiran orang tua saja.
e. Mendengarkan (Listening)
Penjelasan peraturan pada anak tidak saja hanya berbicara pada anak tapi juga mendengarkan reaksi dari anak. Dengan mendengarkan, orang tua dapat penegasan apakah anak dapat mengerti tentang hal – hal yang dibicarakan. Selain itu juga dapat menjadi tempat untuk memecahkan masalah jika anak merasa permintaan orang tua tidak dapat diterima. Dalam hal ini anak dan orang tua dapat bersama – sama mencari alternatif, sehingga dapat sampai pada tujuan yang ingin dicapai. Kondisi ini juga mengembangkan suasana penghargaan terhadap anak dan orang tua.
2. Memperkuat proses belajarTeori belajar mengatakan bahwa suatu respon harus diberi ‘reward’ (hadiah) jika ingin diperkuat. Dalam hal ini bagaimana respon orang tua akan menentukan kecepatan suatu respon dipelajari oleh seorang anak.
Pengarahan dan percayaanPada masa kanak – kanak orang tua diharapkan untuk memberi pengarahan secara konsisten, agar ia mampu untuk menguasai tugas – tugas perkembangannya.
Sedangkan semakin dewasa anak, anak lebih membutuhkan kepercayaan dari orang tua untuk dapat melaksanakan tugasnya, keperayaan yang diebrikan orang tua bahwa ia ammpu menyelesaikan tugas – tugas yang telah disepakati bersama, merupakan suatu ‘incentives’ tersendiri.
Hadiah dan hukumanJika seorang anak mampu menyelesaikan suatu tugas, pemberian hadian akan memperkuat rasa kemampuannya, kompensasi terhadap kesulitan – kesulitan yang dialaminya, dan memperkuat keinginan untuk mengulangi tingkah lakunya. Jika anak tidak dapat menyelesaikan suatu tugas ia tidak akan mendapatkan hadiah. Sebaiknya pemberian hukuman dihindarkan, karena berakibat menyakitkan baik secara fisik maupun psikologis, selain itu akan timbul rasa dendam yang akan menghalangi proses sosialisasi. Hadiah dan hukuman dapat dibagi dalam bentuk fisikan dan bersifat psikologis. Secara umum hadiah yang bersifat psikologis lebih efektif dibandingkan dengan hukuman yang bersifat fisik.
Dengan demikian kontrol menjadi hal penting dari orang tua pada remaja dalam mengatasi permasalahan remaja yang berkaitan dengan kebutuhan remaja untuk diberi kebebasan. Namun tidak hanya remaja yang memiliki permasalahan, orang tua juga memiliki permasalahan dengan remaja.
Orang tua juga sering merasa tidak diperhatikan, anak remajanya lebih senang meluangkan waktu lebih banyak dengan teman – temannya, sehingga orang tua merasa membutuhkan perhatian dari anak remajanya lebih banyak. Untuk mencapai hal tersebut, maka interaksi yang baik sangat dibutuhkan. Dukungan dari remaja bagi orang tuanya dibutuhkan, demikian juga dukungan dari orang tua sangat dibutuhkan remaja. Dukungan ini dapat diperoleh jika masing-masing pihak mau bekerja sama untuk mencapainya. Remaja sangat membutuhkan orang tuanya dalam mencari identitas dirinya, yang pada masa ini sedang dicari.
Menurut Gerald (1983), keluarga menyediakan 3 fungsi dasar sebelum, selama dan setelah masa remaja. 3 fungsi ini tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh peergroups / struktur sosial yang lain sepanjang hidup. 3 fungsi tersebut adalah:
Keluarga menyediakan ‘sense of cohesion’
Kohesi ini atau ikatan emosi membuat kondisi untuk identifikasi dengan kelompok dasar yang utama dan meningkat secara emosional, intelektual dan kedekatan fisik
Keluarga menyediakan model kemampuan adaptasi.
Keluarga mengilustrasikan melalui fungsi dasar bagaimana sebuah struktur kekuatan dapat berubah, bgaimana peran hubungan dapat berkembang dan begaimana peraturan hubungan dapat terbentuk. Remaja yang memiliki pengalaman tipe keluarga yang rigid (rendah tingkat adaptasinya) cenderung terinternalisasi gaya interaksi yang rigid. Sebaliknya, terlalu banyak kemampuan adaptasi dapat membuat gaya ‘chaotic’. Keseimbangan penting untuk fungsi ini, hal yang sama juga dengan kohesi.
Keluarga menyediakan sebuah jaringan komunikasi
Melalui pengalaman dimana individu belajar seni dari pembicaraan, interaksi, mendengarkan dan negosiasi.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

TIP BUAT GURU: MENGATASI MASALAH KOMPUTER NGADAT..

seringkali, ketika kita menggunakan komputer, muncul berbagai masalah dalam komputer kita mulai dari urusan software sampai hardware.

Bila masalah komputer terletak pada software maka yang perlu dilakukan :
1. gunakan fasilitas backup program aplikasi
2. bila tidak di backup, cobalah menggunakan fungsi repair program Aplikasi
3. Biasanya masalah aplikasi rusak kebanyakan karena virus komputer
   cobalah untuk menscan seluruh folder dikomputer anda
4. Gunakan antivirus lokal yang berdampingan dengan antivirus internasional
   seperti SMADAV, AVG, aVIRA Antivir, Norton dll.
5. Selalu update antivirus anda
6. Kalau langkah repair dan scanning antivirus tidak mempan, terpaksa anda
   harus menginstall ulang program aplikasi yang dipakai, dapat anda lakukan
   sendiri maupun bantuan dari teman yang memiliki kemampuan untuk installasi

Bila masalah komputer terletak pada hardware anda, selayaknya saya sarankan
untuk mengunduh file troubleshooting komputer berikut ini MENGATASI MASALAH KOMPUTER Sebelum anda membawa ke service komputer, lakukan beberapa langkah yang disarankan dalam manual tersebut. semoga bermanfaat……

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment